Sabtu, 14 September 2013

    Gedung Monumen Pers Nasional yang terletak di Jl. Gajah Mada No. 29 Solo
mempunyai cerita sejarahi.sebelum menjadi Monumen Pers gedung ini berfungsi sebagai kantor PMI. Di gedung ini pula organisasi profesi kewartanan dibentuk dengan nama PWI ( Persatuan Wartawan Indonesia), pada tanggal 9 Pebruari 1946. Dan di kemudian hari tanggal tersebut ditetepkan sebagai Hari Pers Nasional.Pada awalnya, gedung ini dibangun atas gagasan KGPAA Sri Mangkunegoro VII ( 1918 ) dan dipergunakan untuk gedung pertemuan. Di gedung ini pula pernah menjadi markas besar Palang Merah Indonesia, hanya saja tidak ada kejelasan tahunnya.pada tanggal 9 Pebruari 1946, diadakan konferensi wartawan pejuang kemerdekaan Indonesia, yang melahirkan organisasi PWI dengan Mr. Soemanang sebagai ketuanya.
   Pada peringatan satu (1) dasawarsa PWI, tepatnya pada tanggal 9 Pebruari 1956 kembali muncul ide untuk mendirikan Yayasan Museum Pers Indonesia. Adapun pencetus ide tersebut adalah antara lain B.M Diah, S. Tahsin dan Rosihan Anwar dan pengurusnya adalah R.P Hendro, Kaidono, Sawarno Prodjodikoro, Mr. Soelistyo dan Soebekti dengan modal utama koleksi buku dan majalah milik Soedarjo Tjokrosisworo. Pada saat konggres di Palembang sekitar tahun 1970 baru muncul gagasan untuk mendirikan ” Monumen Pers Nasional”.
   Dalam peringatan seperempat abad PWI ( 9 Pebruari 1971), Menteri Penerangan Budiardjo menyatakan pendirian Museum Pers Nasional di Solo. Kemudian pada tanggal 31 Desember 1977 tanah dan gedung “societeit” tersebut diserahkan kepada panitia pembangunan Monumen Pers Nasional di bawah Departemen Penerangan RI. Dan atas prakarsa Menteri Penerangan waktu itu,  Ali Moetopo yang mendapat dukungan dari Asosiasi Importir Film Kelompok Eropa-AMerika, maka terwujudlah gedung Monumen Pers Nasional yang terdiri dari dua ( 2 ) unit bangunan dengan dua  ( 2 ) lantai, dan satu ( 1 ) unit bangunan dengan empat (4) lantai.  Baru pada tanggal 9 Pebruari 1978 Presiden Suharto meresmikan gedung tersebut yang dipercayakan kepada Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional untuk mengatur dan mengorganisir fungsi dan pemeliharaan sarana prasaranya. banyak sekali kegiatan yang terjadi di Monumen Pers ini. Mulai dari pameran buku, pameran seni rupa sampai seminar-seminar. 
   
Di dalam museum Monumen Pers Nasional, banyak sekali dokumen-dokumen penting dari jaman penjajahan Belanda, Jepang sampai kemerdekaan Indonesia, mulai dari naskah sampau buku-buku yang jumlahnya lebih dari seribu (1000). Selain itu, di museum ini ada pula alat-alat pers kuno, pemancar radio, koleksi foto bahkan koran dan baju wartawan yang meninggal saat mencari berita juga ada.Setelah Depertemen Penerangan dilikuwidasi, Monumen Pers Nasional menginduk pada BKIN (Badan Informatika Komunikasi Nasional), dan tahun 2002 Monumen Pes Nasional ditetapkan menjadi UPT (Unit Pelaksana Tehnis) dibawah Direktorak Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sejak saat itu pula, kegiatan-kegiatannya tidak seperti dulu lagi.Tidak ada kegiatan yang “bergaung” lagi. Aktivitasnya sudah menurun drastis. Paling ada beberapa orang yang membaca surat kabar yang ditempel di papan depan samping kanan gedung itu. Padahal dibalik gedung yang berdiri kokoh di tengah kota itu menyimpan banyak pengetahuan, khususnya tentang pers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar